Klenteng Kim Hin Kiong dan Cerita Cina Gresik Jadi Kapiten di Betawi

Bersepeda sekaligus mengunjungi tempat bersejarah di Gresik - Klenteng Kim Hin Kiong dan cerita dibalik klenteng

Klenteng Kim Hin Kiong menurut beberapa artikel sejarah merupakan klenteng tertua yang ada di Jawa Timur, sudah ada sejak jaman Mojopahit. Dan kini masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan saudara kita yang keturunan Cina atau Tiong Hoa. Masih melanjutkan misi saya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dan tempat bersejarah dengan bersepeda, kali ini masih di daerah Gresik melanjutkan visit sebelumnya di Pantai Mangrove Karang Kiring saya lanjut kedalam kota Gresik menuju ke Klenteng Kim Hin Kiong.

Setelah dari pesisir pantai, saya mulai masuk kedalam kota, menurut sejarah yang pernah saya dengar dan baca, di Gresik banyak tempat bersejarah yang bernuansa religi. Mulai dari Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Drajat yang termasuk Wali Songo yang sangat berjasa menyebarkan islam di Indonesia hingga karifan lokal khas Gresik dan agam-agama lain lain yang ada di Gresik. Salah satunya adalah adanya klenteng tempat peribadatan umat Tiong Hoa yang ternyata memiliki sejarah tersendiri.

Dari buku “Sang Gresik Bercerita” saya jadi tahu kalau salah satu jendral Cina yang berjaya di ibukota Jakarta ada yang berawal dari Kota Gresik.

Dalam buku Sang Gresik Bercerita diceritakan tentang Gan Djie yang pertama kali mendarat di Indonesia di Pelabuhan Gresik hingga menjalin kasih hingga sukses di Gresik dan pada akhirnya harus pindah ke jakarta untuk melanjutkan karir yang dia inginkan.

Supaya lebih lengkap ceritanya, berikut dibawah ini saya sadurkan saja langsung ceritanya supaya kamu bisa baca juga, biar tidak penasaran.

Cina Gresik Jadi Kapiten di Betawi

Wêro ta kêno kabèh… Nèk tokoh-tokoh legendaris koyok Liem Soe LiongOei Tiong Hamlan Gan Djie ngawali kariré sampèk dadi ngetop sak Indonesia iku têko Gresik. Pastiné mêlbu liwat Brug alias Pelabuhan Gresik. Setelah kaya-raya dan punya bekal yang cukup, mereka pun pindah ke Betawi (Batavia) alias Jakarta.

Nontok kêmantèn ambèk Cak Awi

Mampiro tuku lêngo nang pabrik 

Cino sing dadi Kapiten nang Betawi 

Êêêê… Tibaké asliné têko Gresik… 

Mbois Rèèèk…

Coba amati bukti-bukti fisik yang ada di Gresik Kota Lama. Banyak gedung-gedung kuno nan megah itu konon adalah milik orang Cina. Seperti Gedung Genteng Guci sing sak iki dadi Gedung DPRD Gresik, Gedung Yang mBo di Pekelingan, Gedung Jogie di Kemuteran, sampèk Pabrik Inbisco sing wis dibongkar sebelahé Gedung Kabupaten sing lawas nang alon-alon iku. Apa ada hubungannya dengan Syahbandar Nyai Ageng Pinatih yang konon juga punya darah Cina?

Nèk kêno dak percoyoiki lho gatèkno sang crito…

Meski sejak lama nama jalan di sekitar pusat pertokoan dan perdagangan Glodok Jakarta Barat itu diganti menjadi jalan Perniagaan, namun masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai Petekoan. Kawasan ini memiliki sejarah panjang, bahkan sejak jaman awal pemerintahan Kolonial Belanda. Karena kawasan China Town (Glodok, Pasar Pagi, dan Pancoran) ini sejak jaman Jan Pieterzoon Coen memerintah (Mei 1619) telah dijadikan kawasan Pecinan atau Perkampungan Tionghwa. Maka sangatlah wajar jika para Kapitain Cina pernah tinggal di sini.

Lho…opo manèh kok onok Kapiten Cina, apa ada hubungannya dengan Kapten Dulasim yang Tentara dan Pahlawan 1945 itu…. Terustugasé Kapiten Cina jaman Londo iku opo?

Begini, Kapiten Cina diberi tugas oleh Kolonial Belanda sebagai penasihat resmi mengenai adat istiadat Cina di pengadilan. Seperti Souw Beng Kong, Kapitain Cina pertama yang diangkat pada sekitar bulan Oktober 1619 yang juga berprofesi sebagai kontraktor pertama di Betawi. Souw juga memiliki seorang wakil yang bernama Jan Con, seorang Cina muslim yang membangun Masjid Bebek di Jakarta Barat. Kemudian tahun 1639, Souw mundur dan digantikan sementara oleh Lim Lak, seorang Cina muslim.

Kapiten yang ke dua yang resmi setelah Souw adalah Phoa Beng Gan yang berjasa menggali sungai atau kanal yang diapit oleh Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajahmada, serta membangun Kanal Harmoni (sekitar Sekretariat Negara).

Wah… umpamané Kapiten Phoa iki sik uripJokowi dak soro-soro ngurusi banjir… Dijamin dadi partner sing tayoh… Dak ngono taRèk…

Sik… Sik… Sik… Jaré Cak Jokokêno iki nglindur taCak KrisJaré apéné crito soal Gresiklha… kok kèt mau dak onok ambu-ambuné blass???

Sik ta Rèkojok kêsusu… Opo manèh kêdêngkul…

Ya sudah… tak mulai saja kisah yang saya janjikan tadi…

Begini…

Pada jaman dahulu kala, (lho… lho… lho.. kok koyok jaman Pudjangga Baroe ngéné carané mu- lai cerito…)

Sik taRèk… Wong apéné crito kok diréwuki aé… Éson mutung lho yooo… Dak tak tutukno lho…

Ada seorang Cina totok dari wilayah Ciangciu, sebuah kota karesidenan di bagian selatan Provinsi Hokkian. Pada usianya yang sangat muda, ia datang ke Gresik yang tentu saja kapalnya bersandar di Brug, alias Pelabuhan Gresik mengikuti kakaknya yang lebih dulu datang di Pulau Jawa. Pria yang biasa dipanggil Gan Djie itu membantu kakaknya berjualan hasil bumi.

Gan Djie seorang pria yang jujur, ramah, dan sangat disukai oleh masyarakat yang menjadi pelanggan dan para tetangganya. Dan yang patut ditiru adalah semangatnya yang tinggi dan pantang menyerah dalam usaha mencapai cita-citanya. Gan Djie juga rajin sembahyang juga dalam waktu tertentu ia melalukan pang she, yaitu melepaskan makhluk hidup yang sedang menderita. Misalnya saja, burung atau ikan, yang merupakan perbuatan bijak menurut Agama Budha.

Setelah lama ia membantu kakaknya berjualan hasil bumi, ia meminta ijin kepada kakaknya untuk mandiri dengan berjualan kelontong keliling dari desa ke desa dengan memikul barang dagangannya sendiri.

Karena cara ia berdagang mendapat simpati dari para pelanggannya, maka usaha dagangnya menjadi cepat berkembang. Kemudian ia memperbesar usahanya sehingga tentu saja akhirnya ia harus menambah para kuli panggul untuk berdagang. Maka kini ia tak perlu memanggulnya sendiri.

Gadis Bali dan Kapiten der Chineeser

Hari menjelang malam, bias surya memancar jingga keungu-unguan, Gan Djie tampak begitu lelah meskipun tidak lagi memikul dagangan seperti para kuli panggulnya. Maka ketika ia melihat ada sebuah warung yang juga biasa dipakai menginap oleh para musyafir yang kebetulan lewat di ujung desa itu, Gan Djie bersama para kulinya pun menginap di warung itu.

Sebelum Gan Djie melepas lelah di peraduan, ia menyempatkan jalan-jalan menikmati pe- mandangan desa yang di sekitar warung. Nalu- ri pendekarnya mengendus sesuatu yang men- curigakan ketika ia mendengar rumput dan patahan ranting terinjak benda berat.

Spontan ia menoleh ke belakang. Dan betapa terkesimanya ia ketika matanya menangkap sesosok gadis cantik mendekatinya sembari memberi isyarat gerakan telunjuk tepat di depan hidungnya yang mancung, pertanda ia mau berbicara dengan Gan Djie.

Dengan berbisik-bisik, gadis keponakan pemilik warung itu mengatakan, bahwa di warung itu ada tiga orang yang gelagatnya tidak baik. Gadis itu mendengar obrolan mereka menyangkut keberadaan Gan Djie. Karenanya Gan Djie diminta waspada.

Gan Djie sangat berterima kasih atas pemberitahuan itu, sehingga malamnya ia tidak tidur. Sambil membaca buku di tempat tidurnya, dengan pelita dibiarkan menyala serta golok kembar yang juga disebut hap to, diletakkan di sampingnya.

Esok paginya, ia tidak bisa langsung pergi meninggalkan warung untuk kembali ke Gresik, tapi ia berangkat agak siang sambil menunggu dan mencari teman seperjalanan. Intinya ia tak mau berangkat sendirian bersama kulinya saja untuk menghindari niat jahat tiga orang asing itu dan akhirnya sampai juga ia di Gresik dengan selamat, tanpa harus ada pertumpahan darah.

Tak akoni Gan Djie pancèn cerdikRèk… Timbangané mati sia-sia ngelawan rampokbêcik sabar ngêntèni barengantapi slamet…

Berminggu-minggu sepeninggal peristiwa itu, Gan Djie sering sulit tidur. Ia selalu teringat ke- pada seseorang. Bukan pada tiga orang asing itu, tapi pada si gadis Bali yang hampir setiap waktu gambarnya tergores tegas pada pikirannya. Itulah yang memaksa kakinya untuk balik lagi mengunjungi warung si gadis Bali.

Tanpa basa-basi, apalagi cêngèngas-cêngèngès seperti Jacky Chan, ia menemui pemilik warung yang merupakan paman si gadis Bali itu dengan maksud tegas : Melamar!

Dengan alasan ingin membalas budi pada si gadis, ia menyatakan keinginannya untuk memperistri sang keponakan pemilik warung. Tentu saja kisah ini mudah ditebak. Akhirnya si gadis Bali menjadi istri Gan Djie dan selanjutnya dibawa pulang ke Gresik. Atas anjuran istrinya itu, akhirnya Gan Djie tidak lagi berjualan keliling lagi, tapi ia membuat toko di Gresik.

Beberapa tahun kemudian, Gan Djie berubah menjadi saudagar kaya di Gresik. Dan atas saran kerabatnya, ia pun pindah ke Batavia sekitar tahun 1659, kemudian menetap di wilayah yang sekarang disebut Petekoan (tahun 1960-an berganti nama Jalan Perniagaan) untuk berdagang hasil bumi.

Karena sikapnya yang baik dan suka menolong, ia menjadi seorang yang terkemuka di wilayah itu. Ia tidak pilih-pilih status dan latar belakang ketika ia menolong orang. Hingga pada suatu ketika, ia harus menolong dan merawat anak Joan Maetsuiker, seorang Gouverneur General Hindia Belanda (1653) yang secara tidak sengaja terpisah dari orang tuanya.

Atas jasanya itu dan juga atas usulan teman baiknya yang menjadi Kapiten der Chineeser Phoa Beng Gan, Gan Djie diangkat menjadi Kapiten China menggantikan Phoa Beng Gan yang telah berusia lanjut. Maka sejak tanggal 10 April 1663, ia menjadi Kapiten der Chineeser Gan Djie, Kapiten Cina generasi ke tiga di Batavia.

Air Teh dalam Téko

Kini Gan Djie menjadi orang sibuk, namun ia tetap orang yang rajin, baik hati, dan tidak sombong… Terbukti, ia biarkan orang-orang pribumi berjualan di depan kantor sang Kapitein atau bahkan sekedar berteduh.

Waktu cuaca begitu panas, orang sulit sekali mendapatkan sekedar seteguk air penangkal haus.

Nèk sak iki ngono isyok tuku es dawet utowo es cao… Ndanéo suêgêré yoo… Lha jaman sak monoopo wis onok pabrik es yoo??? Opo manèh kulkas…

Melihat kejadian itu, Nyai Gan Djie tersentuh hatinya. Maka ia mengusulkan pada sang suami untuk menyediakan teh tawar (aték banyu matêng lhoRèk) di depan pagar kantornya. Dan bisa ditebak lagi, sang Kapiten pun setuju. Apalah artinya minuman itu bagi seorang Kapiten kaya seperti dia.

Kini tiap hari di depan kantor sang Kapiten der Chineeser Gan Djie telah berjajar meja-meja kecil yang di atasnya nangkring teko-teko alias poci (nèk Wong Gresik ngarani cèrèt) berisi air teh yang boleh diambil gratis oleh setiap orang yang membutuhkan.

Agar kebutuhan air teh itu mencukupi, maka di- sediakan delapan tekoan / poci air teh. Persediaan itu akhirnya menjadi ciri khas sebuah wilayah bagi warga yang berurusan dengan kantor Kapiten der Chineeser itu. Sehingga sampai hari ini, daerah itu disebut Pat- teko-an dan kemudian menjadi Petekoan.

Setelah tiga tahun berkuasa, pada tahun 1666, Kapiten Gan Djie meninggal dunia dan dimakamkan dengan cara yang megah di pema- kaman Molenvliet Oost, kini bernama Hayam Wuruk. Kemudian bisnisnya dilanjutkan oleh put- ranya, Gan Hoo Hoat.

Oleh karena kesulitan mencari penggantinya sebagai Kapiten Cina, maka Nyai Gan Djie diminta untuk menggantikan tugasnya sebagai Kapiten. Dikisahkan pula bahwa selama memerintah, Nyai Gan Djie telah banyak menyelesaikan berbagai persoalan rumah tangga warga Tionghwa.

Setelah 12 tahun memerintah (1678), sang Kapiten perempuan ini mengajukan pengunduran diri karena lanjut usia. Dan pengunduran dirinya akhirnya disetujui oleh pemerintah, bahkan Nyai Gan Djie mendapat penghargaan atas jasa-jasanya.

Dak nyono yo… Atasé Cino pedagang kelontong têko Gresik isyok dadi penguasa sing terkenal nang Ibu Kota… Ndanéo Wong Gresik sing pin- ter-pinterantarané mêné-mêné onok sing dadi Presiden…. Asal dak presidené ludruk aéRèk…