Dieng Culture Festival (DCF)- Sebuah festival budaya yang dikemas secara apik dan didukung penuh oleh Pemerintah provinsi Jawa Tengah. Mengusung agenda Harmoni Jiwa oleh MH. Ainun Najib (Cak Nun), Jazz Atasawan, Sunrise Fun Tracking, kirab budaya, dan potong rambut gimbal. Jadwal lengkap bisa di cek di situs remis DCF www.dieng.id. Kali ini tim pergipergi.id tidak pergi sendiri, bersama arekgresik.net, kami menggunakan jasa Savana Tour untuk perjalanan Dieng Culture Festival kali ini. Dengan itinerary yang telah disiapkan sebelumnya, perjalanan menjadi lebih teratur dan tidak kesulitan dengan akomodasi selama di Dieng, Wonosobo.

Menuju Dieng Culture Festival, Dieng

Agenda DCF 2016 dimulai hari jumat tanggal 5 Agustus 2016 hingga 7 Agustus 2016. Sehinga kami harus berangkat sehari sebelumnya mengingat jarak tempat kami tinggal di sekitar surabaya ke Wonosobo yang cukup jauh. Transportasi yang kami pilih adalah kereta api, lebih simple dan nyaman untuk perjalanan jauh. Tiket pun terbeli jauh-jauh hari dengan menggunakan kereta api kelas ekonomi Logawa tujuan Surabaya-Purwokerto. Meningat padatnya jalur kereta purwokerto ketika DCF diselenggarakan. Tidak ada yang bisa memprediksi hari esok, mungkin itu yang terjadi pada rencana saya. H-1 keberangkatan, tiba-tiba ada opportunity yang tidak bisa saya tinggal. Oleh karena itu keberangkatan yang awalnya saya dan partner (Andy Buchory) menjadi berbeda jam kereta. Mas Andy berangkat terlebih dahulu dengan kereta seperti yang dijadwalkan. Saya menyusul kemudian pada sore harinya jam 17.00 WIB.

Oh iya, di Wonosobo tidak ada kerata langsung yang menuju kesana jadi kami menggunakan jalur stasiun Purwokerto sebagai meeting point. Sebenarnya bisa si kalau mau langsung ke Wonosobo, tapi harus menggunakan Bus. Sesampai di Stasiun Purwokerto, ternyata saya tidak sendirian, ada 8 orang lainnya lagi yang berangkat dari Surabaya. Tahu gitu sudah janjian sebelum-sebelumnya ^__^. Jam 03.00 tepat, semua anggota tour sudah berkumpul di stasiun purwokerto. Kami pun langsung berangkat menuju Dieng, Wonosobo untuk segera memulai perjalanan seru di Festival Budaya Dieng. Agenda pertama di hari jumat adalah sarapan dan mandi di Homestay. Lokasi homestay tidak jauh dari lokasi DCF dan wisata Dieng lainnya.

Dieng Culture Festival
Candi Arjuna, Dieng

Explore Dieng

Tidak berlama-lama, kami langsung mengunjungi lokasi pertama kami di Dieng, Candi Arjuna. Candi Arjuna ini juga yang nantinya akan digunakan sebagai lokasi acara utama Festival, yaitu pemotongan rambut anak berambut gimbal. Kami pun mengambil beberapa foto candi arjuna dan foto bersama untuk kenang-kenangan. Mengingat hari jumat, kami pun harus bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Untungnya ada masjid disekitar lokasi candi arjuna.

Jarak antar lokasi wisata Dieng saling berdekatan, sehingga memudahkan wisatawan untuk menjelajahi semua lokasi wisata. Kalau dianalogikan seperti perumahan, kawasan wisata Dieng ini seperti komplek. Tidak jauh dari candi arjuna terdapat candi lain yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki 100 meter saja. Yak, tujuan berikutnya sebenarnya adalah Kawah Sikidang. Namun karena menemukan candi Bima, maka kami memutuskan untuk berhenti sejenak sambil menikmati makan siang dan mengambil beberapa foto disana. Sambil mengakrabkan diri dengan rombongan yang berjumlah 30 orang.

DSCF3082

DSCF3076

Langsung saja setelah makan siang dan semua berkumpul, rombongan langsung menuju Kawah Sikidang. Turun dari mobil, kami langsung di suguhi monumen besar bertuliskan SIKIDANG. Dibelakang tulisan itu lah terdapat kawasan kawah sikidang. Dari bau nya saja sudah sangat terasa belerang nya. Oleh karena itu harus siap-siap minimal masker untuk melindungi kontak langsung dengan belerang. Selain pemandangan kawah, di kawasan juga disediakan beberapa permainan seperti motor trail yang bisa disewa untuk menjelajah track kawah. Ada juga mobil 4WD dan kuda yang siap diajak berfoto kapanpun dengan hanya membayar lima ribu rupiah saja.

DSCF3111
DSCF3116

#JazzAtasAwan DCF 2016

Puas mengeksplorasi kawah sikidang, kami langsung kembali ke homestay untuk beristirahat sejenak sambil menunggu agenda berikutnya. Agenda yang ditunggu-tunggu itu adalah pembukaan Festival Budaya Dieng- DCF 2016 dan JazzAtasAwan.

Malam mulai tiba, kami bergegas untuk ke lokasi jazz atas awan sebelum jalanan terlalu macet untuk dilalui. Acara Musikal ini di pandu oleh komik (standup comedian) yang berasal dari Wonosobo (namanya lupa). Yang jelas dia punya kumis njelentit seperti pak Raden tapi tipisan. Lumayan seru acara nya walaupun band yang tampil semua nya tidak saya kenal.

Tidak lama kami menyaksikan acara ini, karena besok jam 3.00wib kami sudah harus naik ke Sikunir. Juga untuk menghindari kemacetan karena ramainya penonton dan mobil yang parkir.

#MengejarSunrise Sikunir

Tepat jam 3.00 waktu Dieng, semua rombongan sudah siap untuk berangkat ke Sikunir. Ada yang mandi, ada juga yang hanya cuci muka saja. Air nya yang dingin seperti es membuat banyak yang ragu untuk menyentuh nya. Tapi saya nekat saja langsung mengguyur seluruh tubuh. Awalnya memang sangat dingin, tapi setelah semua tubuh basah rasanya jadi lebih hangat. Kalau di daerah dingin seperti ini biasanya saya menghindari mandi air hangat. Karena kenikmatannya hanya sesaat, setelah keluar kamar mandi rasanya akan lebih dingin #tips .

Dalam gelap kami berjalan menelusuri jalan setapak, menaiki tangga menuju sikunir. Dinginnya udara dataran tinggi Dieng sudah tidak terasa lagi karena bejubel orang yang naik ke Sikunir. Sekitar 30 menit lamanya, hampir semua orang sudah sampai diatas Sikunir. Ada empat punya puncak yang bisa digunakan untuk spot menikmati sunrise. Default biasanya orang akan mengambil tempat di puncak satu, disitu ada gazebo dan tempat yang sudah berpagar pengaman untuk pengunjung. Namun puncak dua dan tiga tidak kalah menarik. View yang lebih luas bisa dinikmati dari puncak tiga.

Jepret-jepret sunrise plus ambil foto selfie menjadi agenda utama kami dipuncak Sikunir. Yang jelas agar ada bukti kalau sudah pernah naik ke puncak Sikunir.

DSCF3172

Yang menarik lagi, ketika matahari sudah mulai tinggi, kami menuruni bukit Sikunir melalui jalan lain. Jalan yang sedikit curam namun menyimpan pemandangan yang subhanallah begitu indah. Melalui tebing sikunir terlihat danau cantik dari atas. Pemandangan seluruh area Dieng bisa dinikmati dari atas sana.

Dan benar saja karena jalan yang kami lalui ini lebih curam, mala kami lebih cepat sampai dibawah. Karena tidak mengantri juga si, yang lain pada ambil jalan reguler sama seperti waktu naik tadi.
DSCF3193

Sesampai dibawah, tidak setetes keringatpun membasahi kulit. Wajar si, karena udara disini sangat dingin. Sehingga tidak mandipun tidak akan merasa bau ?.

Menikmati Purwaceng

Yang jelas rasa capek naik turun sikunir terbayarkan sudah setelah sunrise keluar. Dan sesampai dibawah disambut dengan penampilan Angklung Jaka Sembung yang merdu. Ditempat ini juga saya pertama kali minum minuman khas Dieng, yaitu Purwaceng. Purwaceng terkenal dengan sebutan “The Javanese Viagra”. Setidaknya orang bule bilang begitu ?. Tapi sampai pulang kerumah juga saya belum merasakan efeknya hehehe. Tapi setelah tanya-tanya ke warga dieng, katanya kalau mau mendapatkan efek maksimal dari purwaceng harus ditambah telur dan madu.

Telaga Warna

Agenda selanjutnya setelah puncak Sikunir adalah menikmati keindahan Telaga Warna. Kami memutuskan untuk melihat keindahan telaga warna dari puncak petak sembilan. Hari ini bisa dibilang hari pendakian beneran. Untuk kenuju ke petak sembilan, kami harus melalui anak tangga buatan dari karung tanah. Lumayan tinggi juga, tapi terbayarkan ketika sampai diatas ??.

DSCF3216

Selain pemandangan telaga warna yang terlihat mempunyai beberapa warna akibat pantulan cahaya dan tingkat kedalaman danau. Ada juga semacam gazebo yang bisa digunakan untuk foto-foto. Kalau ambil foto digazebo ini akan terlihat seperti foto diatas rumah pohon yang berada di ketinggian.

Tidak terasa hari sudah semakin siang, cacing dalam perut juga sudah memanggil-manggil. Waktunya malam siang. Karena capek mendaku dua bukit, makanan apapun menjadi terasa lezat ??.

Setelah itu kami kembali ke homestay untuk beristirahat menghimpun tenaga untuk agenda berikutnya. Yaitu malam pelepasan lampion, atau lantern night. Acara yang juga ditunggu-tunggu selain pemotongan rambut anak berambut gimbal esok hari nya.

Malam Lampion

Sore hari pun tiba, kami bergegas untuk segera ke kawasan candi arjuna untuk mengikuti pelepasan lampion. Tapi sebelum itu, kami mampir terlebih dahulu ke toko oleh-oleh. Takut besok hari sudah tidak ada kesempatan lagi untuk beli oleh-oleh.

Di toko oleh-oleh ini sebenarnya kami juga ingin menyaksikan pembuatan makanan lokal Carica. Namun karena kami datangnya kesorean, maka pengrajin nya sudah pulang. Tidak apalah, yang penting bisa beli Carica dan wedang purwaceng untuk oleh-oleh. Oleh-oleh yang kami beli langsung kami masukkan ke mobil dan langsung saja menuju ke lokasi acara. Seperti kami, pengunjung lain nampaknya juga sudah tidak sabar untuk mengikuti pelepasan lampion ini. Bejubel orang memasuki arena festival, kebanyakan berpasang-pasangan. Karena acara pelepasan lampion ini katanya akan lebih romantis jika mengajak pasangan. Tapi banyak juga si yang datang sendiri atau dengan teman-temannya. Ada juga seorang teman yang baru saja patah hati datang keacara ini. Niatnya melepas penat dan refresh melupakan mantan. Menurut kepercayaannya, jika menuliskan nama orang yang ingin dilupakan di lampion maka orang tersebut akan pergi bersama lampion keangkasa. Tapi tetap saja ketika Anji menyanyikan lagu “Dia”, malah mewek gak ketulungan hehehe…

Lantern Night

Acara dibuka oleh band-band indie dan lokal dari beberapa daerah. Dan sampai jam 21.00 WIB belum ada tanda-tanda pelepasan lampion dilaksanakan sehingga peserta mulai gusar. Beberapa orang sudah mulai melepaskan lampionnya, sampai-sampai berulang kali MC mengingatkan untuk menunggu waktunya. Ketika pentonton mulai gusar, mampaknya panitia tau. Dan sentak saja anji menyanyikan sebuah lagi dengan judul “dia”, penonton langsung terdiam dan terbawa oleh lagi nya Anji.

Anji – Dia

Dan tibalah waktunya nyanyian Indonesia Tanah Air berkumandang, lampion-lampion mulai diterbangkan secara serentak. Diiringi oleh suara merdu Anji dengan lagu-lagunya yang sendu. Semua orang terhanyut dalam suasana dan sibuk menyalakan api lampion dan memastikan lampionnya terbang tinggi. Menjadi kepuasan tersendiri jika lampion yang dilepas bisa terbang tinggi. Karena ternyata tidak semua lampion bisa terbang lepas. Ada yang turun kembali sebelum melambung tinggi.

Dan sampai sekarang jika mendengar lagi Anji-Dia masih saja teringat acara di Dieng. Liriknya sebagai berikut:

di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
aku yang pernah terluka, kembali mengenal cinta
hati ini kembali temukan senyum yang hilang
semua itu karena dia
oh tuhan ku cinta dia
ku sayang dia, rindu dia
inginkan dia
utuhkanlah rasa cinta di hatiku
hanya padanya, untuk dia
jauh waktu berjalan kita lalui bersama
betapa di setiap hari, ku jatuh cinta padanya
dicintai oleh dia k*merasa sempurna
semua itu karena dia
oh tuhan ku cinta dia
ku sayang dia, rindu dia
inginkan dia
utuhkanlah rasa cinta di hatiku
hanya padanya, untuk dia
oh tuhan ku cinta dia
ku sayang dia, rindu dia
inginkan dia
utuhkanlah rasa cinta di hatiku
hanya padanya, untuk dia
hanya padanya, untuk dia

Tidak terasa hari sudah mulai larut malam, kami harus segera menginggalkan acara agar tidak terjebak macet. Dan benar saja, ketika keluar dari lokasi, mobil-mobil dijalan raya sudah tidak bergerak, alis macet total. Setelah hitung-hitung waktu dan jarak dari Kawasan candi arjuna ke homestay. Akhirnya kami putuskan untuk berjalan kaki ke homestay yang berjarak hanya 2km saja.

Ada seorang teman yang memutuskan untuk menunggu didalam mobil. Akhirnya memang sampai di homestay, tapi itu memakan waktu dua jam lebih. Yang lebih parah lagi adalah rombongan mobil satunya lagi, karena parkir ditempat yang salah dia harus memutar terlebih dahulu. Mereka membutuhkan waktu empat jam untuk sampai di homestay.

Acara Puncak Dieng Culture Festival 2016

Berjalan kaki dua kilometer menuruni kawasan dieng melewati kemacetan  yang luar biasa membuat kami langsung terlelap tidur. Beruntung acara hari ketiga DCF tidak terlalu pagi seperti waktu naik ke sikunir. Kami semua bangun kesiangan, yang awal nya harus berangkat jam 5.00 wib jadi molor hingga jam 7.00 wib. Walhasil kami terpaksa harus melewatkan acara kirab budaya. Tapi tidak maslaah kalau itu, karena acara puncak nya masih belum terlewat, yaitu upacara adat Pemotongan rambut anak berambut gimbal.

Jam 08.00 kami sudah memasukit area candi Arjuna, tempat upacara pemotongan rambut gimbal. Ternyata sudah banyak peserta lain yang memenuhi pelataran candi untuk mengambil posisi PW. Sebenarnya ada dua pilihan yang bisa kami ambil, yaitu ambil tempat langsung di depan candi arjuna. Atau tunggu dipintu masuk kirab untuk menyaksikan rombongan anak rambut gimbal masuk bersama tetua adat.

Akhirnya kami pecah tim menjadi dua agar bisa dapat foto di kedua tempat tersebut. Karena sudah pasti kalau mengikuti rombongan kirab bakalan tidak dapat tempat didalam pelataran candi arjuna. Tepat jam 10.00 WIB acara pemotongan rambut dimulai dan diumumkan nama-nama anak yang mengikuti upacara beserta permintaannya.

Sejarah

Anak berambut gimbal ini diyakini oleh adat setempat sebagai titipan dari Kyai Kolo Dete. Kyai Kolo Dete merupakan salah seorang punggawa pada masa Mataram Islam (sekitar abad 14). Bersama dengan Kyai Walid dan Kyai Karim. Kyai Kolo Dete ditugaskan oleh Kerajaan Mataram untuk mempersiapkan pemerintahan di daerah Wonosobo dan sekitarnya. Kyai Walid dan Kyai Karim bertugas di daerah Wonosobo, sementara Kyai Kolo Dete bertugas di Dataran Tinggi Dieng.

Tiba di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Kolo Dete dan istrinya (Nini Roro Rence) mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan. Pasangan ini ditugaskan membawa masyarakat Dieng menuju kesejahteraan. Tolak ukur sejahteranya masyarakat Dieng akan ditandai dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal. Sejak itulah, muncul anak-anak berambut gimbal di kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Bagi masyarakat Dataran Tinggi Dieng, jumlah anak berambut gimbal berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat. Semakin banyak jumlah anak berambut gimbal, masyarakat Dieng yakin kesejahteraan mereka akan semakin baik. Begitu pula sebaliknya.

Munculnya rambut gimbal pada seorang anak akan ditandai dengan panas tubuh yang tinggi selama beberapa hari. Suhu tubuh anak tersebut akan normal dengan sendirinya pada pagi hari, bersamaan dengan munculnya rambut gimbal di kepala sang anak.

Biasanya, rambut gimbal akan tumbuh ketika usia seorang anak belum mencapai 3 tahun. Rambut gimbal ini akan tumbuh dan semakin lebat seiring waktu. Rambut gimbal ini hanya akan dipotong dalam prosesi khusus (ruwatan). Pengadaan ruwatan harus mengikuti aturan khusus dan atas dasar kemauan dari si anak berambut gimbal.

Pemotongan rambut gimbal ini harus datang langsung dari si anak berambut gimbal. Tentunya ditunggu sampai beberapa waktu hingga permintaannya tidak berubah-ubah lagi. Jika permintaannya tidak dipenuhi atau tidak diterima oleh si anak, maka rambut gimbal akan tumbuh lagi.
Pemotongan Rambut Gimbal

Pemotongan Rambut Gimbal

Acara adat ini dihadiri oleh petinggi daerah setempat. Pemotongan pertama dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Terlihat wajah sumringah dari anak berambut gimbal yang dipotong rambutnya. Permintaannya sangat sederhana sekali, yaitu karet gelang (kuncit) dan boneka. Kemudian diikuti oleh Bupati Wonosobo untuk anak berikutnya. Pemotongan rambut ketiga terdapat surprise ketika ada Anji (artis) ikutan datang memotong rambut sesuai dengan permintaan si anak.

Kami tidak bisa berlama-lama diacara ini, mengingat hari sudah semakin siang dan kami harus bergegas agar tiba di stasiun purwokerto sesuai jadwal. Namun apa dikata, diluar prediksi semua orang, jalanan kembali macet seperti tadi malam. Kali ini lebih parah, karena mobil yang kami tumpangi parkir ditempat yang salah. Sehingga harus memutar mengelilingi komplek candi arjuna untuk bisa turun ke homestay. Beberapa kawan sudah memutuskan untuk jalan kaki atau naik ojek supaya bisa sampai dihomestay. Ada juga yang menunggu sebentar seperti saya sebelum akhirnya turun juga naik ojek karena sudah tidak sabar.

Akhirnya semua orang terpaksa harus naik ojek atau berjalan kaki. Namun kali ini rute yang dipilih bukan rute reguler jalan raya, tapi melewati jalan tembus yang dibuat oleh warga. Melalui pinggiran telaga warna yang indah, menuruni bukit yang curam tidak lebih dari 10 menit jika naik ojek. Dan 30 menitan jika berjalan kaki. Ada bagusnya juga si lewat sini, jadinya tahu secara langsung pinggiran telaga warna yang kemarinnya baru lihat dari atas saja.

Akhir Cerita DCF 2016

Masih belum berakhir penantian kami, karena mobil yang seharusnya digunakan mengantar ke purwokerto masih terjebak di atas. Seharusnya jam 14.00 WIB kami sudah harus berangkat menuju ke stasiun purwokerto, kami belum mendapat kepastian sampai jam 17.00 WIB. Akhirnya kami putuskan saja untuk menyewa angkutan umum (BUS) supaya cepat sampai ke stasiun purwokerto.

Terima kasih pada Regita dari Savana Tour yang membantu kami mencari Busnya. Akhirnya kami bisa berangkat ke purwokerta dengan sedikit cemas bakalan ketinggalan kereta. Agak sedikit lega, namun ada lagi yang membuat deg-degan. Ketika bus tiba-tiba berhenti dipinggir jalan beberapa lama. Kami tanya ke driver nya, ternyata dia tidak berani keluar kota karena bus nya belum ada surat-surat karena baru dibeli. Untungnya driver punya solusi dengan mengganti bus dengan kepunyaan rekannya.

Perjalananpun dilanjut dan alhamdulillah kami sampai di purwokerto tepat waktu, tepat pukul 21.00 WIB. Masih sempat beli makan malam dan kebelakang sebentar sebelum masuk ke Kereta BIMA yang mengantar kami ke Surabaya.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here